Januari 23, 2022

5 Faktor Penyebab Kegagalan Supply Chain

Supply chain bisa menjadi sesuatu yang begitu rumit. Begitu kompleks. Dan semakin kompleks supply chain, perusahaan seharusnya semakin sadar kalau pengambilan keputusan-keputusan yang tepat berkaitan dengan supply chain sangatlah penting untuk mereka sendiri dan supplier mereka juga tentunya. Kegagalan supply chain adalah hal lain yang juga harus anda antisipasi.

Sangat penting untuk memastikan bahwa operasional supply chain anda berjalan dengan baik. Kenapa? Karena hal itu akan sangat berpengaruh pada profit and loss perusahaan anda.

Mengingat supply chain bisa menjadi begitu kompleks, anda harus benar-benar tahu apa saja faktor yang bisa membuat supply chain anda mengalami kegagalan.

Setidaknya ada lima faktor yang perlu anda perhatikan untuk terhindar dari kegagalan supply chain.

Offshoring

Supply chain yang melibatkan sejumlah besar supplier dari luar negeri, beresiko lebih tinggi mengalami kegagalan dibanding yang menggunakan supplier lokal.

Kenapa begitu?

Begini, kemampuan anda untuk mengendalikan supplier anda hanyalah sebatas di dalam perbatasan negara saja. Lebih jauh dari itu, anda akan menemui kesulitan. Apalagi kalau supplier anda berada ribuan kilometer jauhnya.

Belum lagi kalau ada kendala bahasa dan budaya dengan supplier-supplier tersebut. Itu akan membuat anda semakin sulit untuk me-manage mereka.

Peristiwa ngga terduga

Ya, sesuai namanya, memang ngga ada yang bisa memprediksi kejadian apa yang akan terjadi pada supply chain anda.

Tiba-tiba ada bencana alam, pergolakan politik, atau kejadian ngga terduga lainnya yang berdampak besar pada supply chain anda, terutama berkaitan dengan inventory. Dan karena supply chain biasanya juga mencakup lintas perbatasan, resikonya juga menjadi semakin besar.

Terlebih untuk industri pangan dan produk olahan. Akan lebih sulit untuk menghindari dampak resiko yang timbul akibat iklim yang berbeda di tiap negara kalau memang supply chain bisnis tersebut melewati beberapa negara yang berbeda.

Kejadian yang ngga terduga bisa mengakibatkan kegagalan supply chain.

Anda sebagai produsen yang membeli suku cadang utama untuk produksi anda dari beberapa negara yang berbeda, pasti tahu kalau sampai terjadi gangguan di salah satu negara pemasok itu saja, bisa mengganggu keseluruhan supply chain anda. Bahkan sampai mengakibatkan berhentinya produksi. Saya yakin beberapa dari anda pernah mengalami hal ini.

Anda juga pasti suka:

Just-In-Time Inventory Management yang ngga efisien

Saat ini, semakin banyak produsen yang mengadopsi metode Just-In-Time dan lean production. Mungkin anda merupakan salah satunya juga.

Dengan metode Just-In-Time, anda hanya membeli barang sebanyak yang anda butuhkan. Jadi, ngga akan ada banyak stok yang harus anda simpan.

Pendekatan ini memang bagus. Anda cuma menyimpan stok sebanyak yang anda butuhkan. Itu akan menghemat biaya penyimpanan. Dan pendekatan ini akan menjadi lebih baik lagi jika diterapkan pada pabrikan dengan margin yang cukup ketat.

Tapi di sisi lain, pendekatan ini juga bisa berpotensi menyebabkan kegagalan supply chain karena supply chain yang ramping cenderung kurang tahan terhadap terjadinya gangguan.

Resiko ini meningkat, khususnya untuk perusahaan-perusahaan yang menerapkan konsep Just-In-Time.

Kenapa?

Karena fleksibilitas mereka sangatlah rendah kalau sampai terjadi keterlambatan pengiriman dari supplier.

Karena itulah, kalau memang anda ingin menerapkan konsep Just-In-Time ini, pastikan anda mengaudit supply chain anda secara rutin. Ini penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang mungkin timbul dan mempengaruhi supply chain anda.

Tekanan biaya

Anda tentu tahu kalau tekanan untuk terus menurunkan biaya operasional terus terjadi dari waktu ke waktu.

Anda melakukannya untuk menekan biaya yang harus dibayarkan konsumen anda. Dan tekanan biaya ini bisa menjadi semacam filter di dalam supply chain anda.

Apa maksudnya?

Maksudnya, berarti supplier-supplier yang ingin memasok kebutuhan anda harus melakukan usaha lebih untuk bisa ber-partner dengan anda.

Tekanan biaya bisa mengakibatkan kegagalan supply chain.

Pada akhirnya, seringkali tekanan ini mengakibatkan kegagalan supply chain secara perlahan. Dan kalau itu sudah terjadi, mau ngga mau anda harus melakukan penyesuaian. Supplier, di sisi lain, seringkali menjadi pihak yang harus menanggung tekanan biaya tersebut dan melakukan aktifitas cost reduction di sisi mereka.

Kelihatannya menguntungkan dari sisi pembelian ya? Tapi faktanya, tingkat tekanan finansial seperti ini membuat supply chain menjadi sangat rentan secara keseluruhan. Dan anda termasuk yang berada di dalamnya.

Ketika supply chain dalam kondisi seperti itu tiba-tiba gagal, anda sebagai produsen ngga lagi memiliki stok yang anda butuhkan. Anda ngga ingin hal itu terjadi pada bisnis anda, bukan?

Anda juga pasti suka:

Supply chain yang dangkal

Keadaan ini mungkin jarang terjadi. Dimana perusahaan cuma mengandalkan satu atau beberapa gelintir supplier saja.

Dan seperti yang anda tahu, skema seperti itu bisa meningkatkan resiko kegagalan supply chain anda. Apalagi kalau supplier tersebut ngga bisa diandalkan.

Kalau bisnis anda cuma bergantung pada beberapa supplier utama, anda perlu berpikir lebih jauh tentang resiko bisnis yang harus anda tanggung kalau supplier tersebut tiba-tiba ngga bisa memenuhi komitmen supply mereka untuk anda.

Memang ngga semudah itu untuk mendapatkan supplier cadangan.

Terutama kalau anda menuntut mereka untuk bisa memenuhi kualitas yang sama. Atau, jika supplier anda sekarang adalah supplier yang memang spesialis di bidang tersebut.

Kalau seperti itu kondisinya, anda perlu bekerja sama dengan supplier anda secara intensif untuk bisa mengidentifikasi dan menangani faktor-faktor apa saja yang bisa berdampak negatif pada supply chain anda. Tentunya sebelum masalah yang lebih besar terjadi.

Kesimpulan

Itulah lima faktor yang bisa meningkatkan resiko kegagalan supply chain anda.

Kegagalan supply chain sangat mungkin untuk dihindari. Walaupun dalam beberapa kasus, seperti bencana alam, kegagalan seperti itu ngga terhindarkan.

Dalam hal itu, anda harus mempersiapkan skema yang mampu mengembalikan supply chain anda ke kondisi normal secepat mungkin segera setelah kegagalan yang ngga bisa dihindari tersebut terjadi.

Lebih jauh lagi, anda perlu mencermati apakah salah satu dari lima faktor di atas ada di dalam bisnis yang anda jalankan saat ini atau ngga. Sehingga anda bisa mengambil langkah yang diperlukan untuk mengubah keadaan anda dan meminimalkan resiko kegagalan yang mungkin terjadi.

“Kalau anda pikir artikel ini bermanfaat, bagikan juga ke rekan-rekan anda lainnya dan gabung dengan scmguide telegram channel untuk mendapatkan artikel bermanfaat lainnya dari blog ini.”

Dicky Saputra

Supply chain practitioner with 16 years of working experience. I help companies improve their end to end supply chain performance. You can contact me on: Email: dicky.scmguide@gmail.com Linkedin: https://www.linkedin.com/in/dickysaputra

View all posts by Dicky Saputra →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: