Oktober 18, 2021

Vendor Managed Inventory (VMI): Definisi, Cara, Keuntungan, dan Risiko

Kali ini saya akan mengajak Anda membahas tentang Vendor Managed Inventory (VMI), mulai dari definisinya, cara mengelolanya, keuntungan, sampai risiko yang mungkin timbul dari model inventory management ini.

Sebelum kita mulai pembahasan menarik ini, pastikan juga Anda sudah bergabung dengan scmguide telegram channel karena akan banyak lagi bahasan-bahasan menarik, dan penting pastinya, seputar supply chain management dari blog ini. Jadi, pastikan Anda ngga ketinggalan update artikel-artikel terbarunya.

Ayo kita mulai.

Apa itu Vendor Managed Inventory (VMI)

vendor managed inventory (VMI)

Vendor Managed Inventory (VMI) adalah praktik manajemen inventory di mana vendor barang, biasanya berupa produsen, bertanggung jawab untuk mengoptimalkan inventory yang distributor punya.

Nah, pertanyaannya, apa bedanya dengan manajemen inventory tradisional?

Dalam manajemen inventory tradisional, retailer (kadang-kadang kita sebut sebagai pembeli atau buyer) membuat keputusan mereka sendiri terkait jumlah barang yang akan mereka pesan.

Sedangkan di VMI, retailer membagikan data inventory mereka pada vendor sebegitu rupa sehingga vendor-lah yang menjadi pembuat keputusan yang menentukan jumlah pesanan barang untuk keduanya.

Terlihat bedanya kan?

Dengan begitu, vendor bertanggung jawab atas biaya pemesanan retailer, sedangkan retailer harus membayar biaya penyimpanannya sendiri.

Kebijakan ini bisa membantu Anda mencegah penyimpanan inventory yang ngga Anda inginkan, dan karenanya bisa menghasilkan pengurangan biaya secara keseluruhan.

Selain itu, efek bullwhip juga bisa Anda kurangi dengan menggunakan pendekatan Vendor Managed Inventory (VMI) dalam kerjasama pembeli-vendor.

Kita akan bahas lebih detail kelebihan dari Vendor Managed Inventory (VMI) ini nanti.

Nah, penyedia logistik pihak ketiga (3PL) juga bisa Anda libatkan untuk memastikan kalau Anda, sebagai pembeli, punya tingkat inventory yang Anda perlukan dengan menyesuaikan kesenjangan antara permintaan dan penawaran.

vendor managed inventory (VMI)

Sebagai hubungan saling menguntungkan, Vendor Managed Inventory (VMI) bisa memperkecil kemungkinan bisnis kekurangan stok barang dan mengurangi inventory dalam supply chain.

Selanjutnya, perwakilan vendor di toko retailer menguntungkan mereka dengan memastikan kalau produk mereka ditampilkan dengan benar, dan staf toko terbiasa dengan fitur lini produk mereka. Semua itu dilakukan sambil membantu membersihkan dan mengatur lini produk mereka untuk toko. Vendor Managed Inventory (VMI) juga bisa mengurangi besarnya bullwhip effect seperti yang saya sampaikan sebelumnya..

Salah satu kunci untuk membuat Vendor Managed Inventory (VMI) berfungsi adalah kesediaan untuk menanggung risiko bersama.

Dalam beberapa kasus, kalau inventory ngga terjual, vendor akan membeli kembali produk mereka dari pembeli (retailer).

Dalam kasus lain, produk mungkin ada di lokasi retailer, tapi statusnya bukan milik retailer sampai terjadi penjualan.

Artinya, retailer cuma menampung (dan membantu penjualan) produk dengan imbalan komisi yang sudah ditentukan atau keuntungan (kadang-kadang disebut sebagai konsinyasi).

Bentuk khusus dari bisnis seperti komisi ini adalah perdagangan berbasis scan, dimana Vendor Managed Inventory (VMI) biasanya diterapkan tapi penggunaannya ngga wajib.

Ini adalah salah satu model bisnis sukses yang Walmart dan banyak pengecer besar lainnya gunakan.

Perusahaan minyak sering menggunakan teknologi untuk mengelola inventory bensin di SPBU yang mereka suplai.

Vendor Managed Inventory (VMI) membantu menumbuhkan pemahaman yang lebih dekat antara vendor dan produsen dengan menggunakan format pertukaran data elektronik, software EDI, dan metodologi statistik untuk memperkirakan dan menjaga inventory yang sehat dalam supply chain.

Vendor mendapat manfaat dari kontrol tampilan yang lebih besar dan kontak customer yang lebih banyak untuk karyawan mereka; retailer mendapat manfaat dari pengurangan risiko, pengetahuan staf toko yang lebih baik (yang membangun loyalitas merek untuk vendor dan retailer), dan mengurangi pengeluaran pemeliharaan tampilan.

Konsumen mendapat manfaat dari staf toko yang berpengetahuan luas yang sering kontak dan dekat dengan perwakilan produsen (vendor) ketika ada suku cadang atau layanan mereka perlukan.

Staf toko punya pengetahuan yang baik tentang sebagian besar lini produk yang ditawarkan oleh seluruh jajaran vendor.

Mereka bisa membantu konsumen memilih dari produk pesaing untuk item yang paling cocok untuk mereka, dan menawarkan dukungan layanan yang toko tawarkan.

Di tingkat manufaktur barang, Vendor Managed Inventory (VMI) membantu Anda mencegah gudang yang meluap atau kekurangan, serta tenaga kerja, pembelian, dan akuntansi yang mahal.

Dengan Vendor Managed Inventory (VMI), bisnis bisa mempertahankan inventory yang tepat. Dan inventory yang dioptimalkan akan menghasilkan akses barang yang mudah dan pemrosesan yang lebih cepat, plus pengurangan biaya tenaga kerja.

Gampangnya, Vendor Managed Inventory (VMI) adalah sistem manajemen inventory di mana inventory diisi ulang untuk pembeli atau retailer, tanpa mereka harus memulai pesanan pembelian.

Pembeli atau retailer membagikan data inventory mereka dengan vendor. Dan vendor menentukan jumlah dan frekuensi pesanan.

Yang harus Anda lakukan adalah menemukan direktori grosir dan mencari beberapa vendor.

Nah, pertanyaan menariknya, kenapa vendor mau bersusah payah mengelola inventory yang berada di luar kendali mereka? Apa untungnya bagi mereka? Dan bagaimana cara kerjanya dengan berbagai jenis inventory?

Ayo kita lihat seperti apa cara kerja Vendor Managed Inventory (VMI) dan mengapa ini bermanfaat.

Anda juga pasti suka:

Komponen Vendor Managed Inventory (VMI)

Lokasi inventory

vendor managed inventory (VMI)

Dalam praktik Vendor Managed Inventory (VMI), lokasi inventory tergantung pada pengaturan antara vendor dan customer. Apa saja pilihan yang Anda punya?

Ayo kita lihat.

  1. Inventory ditempatkan di tempat customer dan vendor. Untuk vendor, ini berfungsi sebagai perlindungan terhadap siklus pengiriman yang pendek atau siklus produksi yang ngga sinkron. Di sisi lain, pengaturan ini juga bisa berarti biaya penyimpanan inventory yang lebih tinggi karena kebutuhan untuk penyimpanan bahan, pelacakan dan penanganannya, dan ancaman keusangan inventory.
  2. Vendor mengirimkan barang ke gudang pusat customer atau alternatifnya, ke gudang pihak ketiga. Yang terakhir ini bisa menjadi solusi bagi pembeli yang sudah mengalihdayakan sebagian atau seluruh operasi logistik mereka. Mengelola inventory di gudang pusat memungkinkan optimalisasi pengiriman yang lebih baik, biaya yang lebih rendah, dan pada akhirnya memungkinkan pembeli untuk memaksimalkan skala ekonomi. Tapi, itu ngga selalu menjadi pilihan, sehingga gudang pihak ketiga sering menjadi solusi untuk berbagai masalah, seperti gudang vendor yang terlalu jauh dari pembeli, atau kurangnya pengalaman pembeli dalam menyimpan jenis barang tertentu yang lebih sulit untuk disimpan, misalnya.
  3. Inventory ditempatkan langsung di tempat pembeli, seperti gudang di tempat pembeli, jalur produksi, atau lantai toko itu sendiri. Tapi, replenishment tingkat inventory di lokasi tertentu ini bisa jadi lebih mahal, kurang terorganisir, dan secara keseluruhan lebih sulit untuk vendor kelola.

Kepemilikan inventory

Kepemilikan inventory mengacu pada kepemilikan inventory dan ketika invoice diterbitkan ke retailer.

Dalam Vendor Managed Inventory (VMI), ada sejumlah solusi dalam hal pembayaran dan transfer kepemilikan inventory ini.

Apa saja itu?

  1. Vendor adalah pemilik inventory di tempat customer. Invoice dikeluarkan ketika barang dikeluarkan dari stok.
  2. Retailer mengambil alih kepemilikan inventory, tapi menerima invoice pada saat pengiriman. Vendor ngga dibayar sampai customer mengeluarkan barang dari stok mereka dan dalam jangka waktu pembayaran sesuai dengan persyaratan pembayaran yang disepakati. Hal ini memungkinkan pembagian risiko antara kedua belah pihak, karena retailer membawa risiko keusangan, sementara vendor akan bertanggung jawab atas biaya modal dan fluktuasi harga inventory.
  3. Alternatif ketiga, juga disebut sebagai proses standar dalam pengiriman pesanan tradisional, retailer memiliki inventory pada saat pengiriman, sedangkan vendor menagih retailer sesudah pengiriman dilakukan. Dalam pengaturan ini, retailer bertanggung jawab atas investasi inventory dan biaya penyimpanan, tapi punya opsi untuk melindungi diri mereka sendiri dari fluktuasi harga.

Tingkat visibilitas permintaan

vendor managed inventory (VMI)

Elemen-elemen ini mengacu pada jenis informasi permintaan yang dibagikan oleh customer untuk membantu vendor dalam mengendalikan inventory mereka.

Banyak jenis informasi permintaan dibagikan dalam Program Vendor Managed Inventory (VMI).

Informasi permintaan yang terlihat oleh vendor adalah: data penjualan, penarikan stok, jadwal produksi, tingkat inventory, barang dalam perjalanan (goods in transit), backorder, pesanan masuk dan pengembalian.

Dikatakan kalau berbagi data dan inventory, bisa meningkatkan perencanaan produksi vendor, membuatnya lebih stabil, dan meningkatkan visibilitasnya.

Ini juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan musim, dan membantu untuk mengetahui saat-saat kritis.

Oleh karena itu, vendor bisa memanfaatkan informasi ini dan menyesuaikan produksinya dengan permintaan customer, dan merespons lebih cepat.

Dengan meningkatnya visibilitas informasi, vendor punya kerangka waktu yang lebih lama untuk pengaturan replenishment.

Vendor juga mendapatkan visibilitas real time. Itu akan memungkinkan mereka punya inventory untuk perkiraan permintaan pembeli. Juga, akan memungkinkan mereka untuk memproyeksikan inventory berdasarkan permintaan di masa mendatang untuk menargetkan inventory yang harus mereka punya (meminimalkan atau memaksimalkannya).

Stabilitas dan koordinasi ini memungkinkan untuk mengurangi efek Bullwhip, karena produsen punya visibilitas yang lebih jelas pada supply chain dan gambaran tentang permintaan yang masuk.

Data biasanya diperbarui setiap minggu dan ditransmisikan melalui EDI, yang memungkinkan perkiraan tren pasar yang sebenarnya.

Data didasarkan pada jumlah nyata barang yang diproduksi dan dijual.

Perjanjian untuk berbagi informasi ini bertujuan untuk menjaga aliran barang yang diperlukan tetap stabil.

Anda juga pasti suka:

Cara kerja sistem Vendor Managed Inventory (VMI)

Inventory yang dikelola vendor dipunya oleh vendor, tapi terletak di tempat pembeli atau retailer.

Ini adalah bentuk inventory konsinyasi, di mana vendor menyerahkan inventory mereka ke pengelolaan orang lain sambil tetap mempertahankan kepemilikannya.

Jadi, bagaimana cara kerja Vendor Managed Inventory (VMI)?

Ayo kita lihat.

  1. Baik vendor maupun pembeli sepakat tentang tujuan dan metrik yang menentukan keberhasilan untuk hubungan Vendor Managed Inventory (VMI) mereka. Ini biasanya berupa kinerja inventory, tingkat perputaran inventory, dan biaya transaksi. Bagian lain dari perjanjian akan membahas tentang apakah pembeli membayar inventory pada saat akuisisi, atau pada saat dijual kepada pengguna akhir. Juga akan membahas tentang bagaimana kelebihan inventory akan dikembalikan.
  2. Vendor mengirimkan inventory ke pembeli atau retailer.
  3. Vendor memantau pola penjualan dan tingkat inventory produk mereka di pembeli atau retailer tersebut.
  4. Vendor membuat perhitungan pemesanan dan pengisian ulang berdasarkan demand forecast dan lead time.
  5. Spesialis atau perencana Vendor Managed Inventory (VMI) vendor meninjau perhitungan dan menempatkan pesanan pengisian ulang.

Hubungan Vendor Managed Inventory (VMI) yang sukses adalah tentang vendor yang mengetahui kapan harus mengisi kembali inventory pembeli mereka.

Dan kuncinya adalah pembeli membagikan data sales dan demand forecast mereka dengan vendor mereka.

Tips menerapkan Vendor Managed Inventory (VMI)

Vendor Managed Inventory (VMI) didasarkan pada komunikasi yang sehat antara pembeli dan vendor.

Kalau vendor ngga terbiasa dengan tren permintaan pembeli, mereka ngga akan tahu berapa banyak inventory yang harus mereka kirim, atau seberapa sering mengirimnya.

Itu bisa menyebabkan kelebihan inventory, kekurangan inventory, inventory dan usaha yang terbuang sia-sia, dan banyak kesalahan.

Bagaimana menghindarinya?

Berikut adalah beberapa tips bagi pembeli untuk menguasai Vendor Managed Inventory (VMI):

  1. Terbukalah dengan data Anda. Sering-seringlah berbagi apa yang Anda rasa nyaman untuk dibagikan, termasuk tingkat inventory, lonjakan musiman, dan jeda musiman.
  2. Lindungi data Anda juga. Vendor Managed Inventory (VMI) yang berhasil didasarkan pada berbagi informasi penjualan yang sensitif. Pastikan Anda punya perjanjian kerahasiaan “berlapis besi” sebelum memberi vendor akses ke informasi inventory Anda.
  3. Menjadi ahli di vendor Anda. Anda memberi organisasi lain akses ke data dan kontrol inventory Anda. Anda sebaiknya memastikan kalau Anda yakin dengan kemampuan dan kepercayaan mereka. Lakukan riset, dapatkan referensi, baca ulasan tentang mereka.
  4. Buat kontrak Vendor Managed Inventory (VMI) yang menentukan secara rinci inventory apa yang akan dikelola vendor, tingkat inventory minimum dan maksimum, dan kebijakan pengembalian.
  5. Harapkan vendor kecil dan menengah yang bereputasi untuk menjadi mitra Vendor Managed Inventory (VMI) terbaik dan paling andal Anda. Supply chain nasional yang besar ngga mungkin memberi Anda layanan customer terbaik di kelasnya. Mereka cuma akan berurusan dengan terlalu banyak pembeli lain.
  6. Bersikaplah terbuka tentang faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi perilaku pembelian. Seperti berencana untuk membawa lini produk serupa dari pesaing atau mulai menjual produk melalui saluran lain, seperti pasar grosir.
  7. Tetapkan batas minimum/maksimum berapa banyak inventory yang ingin Anda simpan atau berapa banyak ruang fisik yang ingin Anda pesan untuk inventory.

Di sisi lain, berikut adalah beberapa ide bagi vendor untuk mendapatkan hasil maksimal dari Vendor Managed Inventory (VMI):

  1. Jelajahi opsi dengan pembeli Anda untuk mendapatkan nilai lebih dari sekadar penyimpanan. Tanyakan tentang ruang rak utama. Atau, tentang mendidik anggota staf tentang produk Anda (jadi mereka bisa menjual lebih efektif). Dan cara untuk mengintegrasikan branding Anda di toko atau di situs web mereka.
  2. Bersikaplah proaktif dalam melihat demand forecast pembeli, tingkat inventory, angka penjualan, dan analisis perilaku pembeli.
  3. Dapatkan perwakilan di gerai retail yang membawa produk Anda. Pastikan tampilan, branding, dan nilai jual untuk inventory barang dagangan vendor dioptimalkan.

Anda juga pasti suka:

Manfaat menerapkan Vendor Managed Inventory (VMI)

Salah satu manfaat Vendor Managed Inventory (VMI) adalah vendor bertanggung jawab untuk memasok customer saat barang dibutuhkan. Itu bisa menghasilkan:

  • Penghapusan safety stock.
  • Tingkat inventory yang lebih rendah.
  • Pengurangan biaya admin terkait pembelian.

Vendor Managed inventory (VMI) menghilangkan kebutuhan customer untuk punya safety stock yang signifikan karena vendor mengelola lead time pasokan.

Inventory yang lebih rendah untuk customer bisa memberikan penghematan biaya yang signifikan.

Customer juga bisa mendapatkan keuntungan dari pengurangan biaya pembelian.

Karena vendor menerima data dan bukan pesanan pembelian, departemen pembelian akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menghitung dan mengeluarkan pesanan pembelian.

Selain itu, kebutuhan akan koreksi dan rekonsiliasi pesanan pembelian dihilangkan, yang selanjutnya mengurangi biaya pembelian.

Penghematan biaya juga bisa Anda dapatkan dalam pengurangan biaya gudang.

Persediaan yang lebih rendah bisa mengurangi kebutuhan Anda akan ruang dan sumber daya gudang.

Manfaat bagi vendor/produsen

Vendor/produsen bisa memperoleh beberapa manfaat dari Vendor Managed Inventory (VMI)karena mereka bisa memperoleh akses ke data titik penjualan (Point of Sales; POS) customer yang membuat proses forecasting mereka jadi sedikit lebih mudah.

Produsen juga bisa memasukkan rencana promosi customer mereka ke dalam model forecast, yang berarti akan tersedia cukup stok saat promosi mereka berjalan.

Sebagai produsen, punya visibilitas lebih ke tingkat inventory customer mereka membuat lebih gampang untuk memastikan kalau kehabisan stok ngga akan terjadi, karena mereka bisa melihat kapan item perlu diproduksi.

Vendor Managed inventory (VMI), bila diterapkan dengan benar, adalah salah satu cara untuk membantu Anda menyediakan apa yang diinginkan customer, saat mereka menginginkannya.

Kenapa?

Karena, dengan asumsi vendor mengelola inventory Anda dengan cara yang dioptimalkan, Anda akan selalu punya stok. Dan Anda akan bisa mengirimkan produk tepat waktu ke customer.

Vendor Managed Inventory (VMI) juga bisa membantu Anda menekan biaya, karena tujuan Vendor Managed Inventory (VMI) adalah menjaga tingkat inventory Anda tetap rendah dan menyediakan pasokan sesuai kebutuhan.

Manfaat lainnya adalah seperti di bawah ini:

  • Risiko berkurang karena pembeli ngga perlu berinvestasi (atau berinvestasi sebanyak-banyaknya) dalam inventory yang mungkin ngga bisa mereka jual.
  • Tidak ada lagi pembatasan arus kas. Uang ngga terikat dalam inventory karena inventory ngga dibayar sampai terjual. Dan/atau vendor membawa seluruh kemampuan analitis mereka untuk menanggung replenishment, memastikan inventory dioptimalkan.
  • Tingkat inventory yang lebih rendah. Dengan vendor yang menerima risiko inventory ngga terjual, Anda bisa yakin kalau mereka mengetahui inventory yang terlalu banyak dan berpotensi usang atau kedaluwarsa. Itu berarti mereka akan berhati-hati dan memilih tingkat inventory yang lebih rendah dan pengiriman yang lebih sering.
  • Biaya pengangkutan yang lebih rendah. Tingkat inventory yang lebih rendah berarti biaya penyimpanan yang lebih rendah karena Anda mengurangi semua kelebihan stok Anda dan menghilangkan biaya penyimpanan dan pemeliharaannya.
  • Safety stock berkurang atau ngga ada. Safety stock dan buffer stock mengikat banyak uang dan tenaga, plus membawa risiko. Ketika vendor Anda mengendalikan proses manajemen inventory, mereka akan bisa menggabungkan data Anda dengan pengetahuan mereka dengan lead time mereka sendiri untuk menghilangkan kebutuhan akan stok tambahan.
  • Mengurangi penyusutan inventory. Penyusutan merupakan bagian yang ngga bisa dihindari dalam menyimpan inventory. Semakin sedikit inventory yang Anda simpan, semakin sedikit penyusutan yang akan Anda alami.
  • Kurang atau ngga ada stockout. Adalah tujuan utama vendor untuk membuat pembeli senang atau mereka akan menemukan vendor lain. Dengan melakukan replenishment yang lancar dan konsisten dengan sistem Vendor Managed Inventory (VMI), Anda akan menghilangkan ketidakpastian seputar pemesanan acak dan berkala. Vendor Anda akan selalu tahu persis bagaimana menyesuaikan lead time dengan permintaan, karena mereka sudah terbiasa melakukannya.
  • Biaya perencanaan, pemesanan, dan manajemen inventory berkurang karena semuanya dialihkan ke vendor atau produsen.
  • Penjualan dan loyalitas merek tumbuh karena pengetahuan produk di antara staf tumbuh seiring seringnya kontak dengan perwakilan vendor. Ini ngga berlaku untuk inventory MRO, tentu saja.

Anda juga pasti suka:

Kekurangan Vendor Managed Inventory (VMI)

Bagaimana dengan kerugiannya? Apakah ada?

Kerugian dari Vendor Managed Inventory (VMI) termasuk keharusan untuk mengizinkan akses non-karyawan ke data inventory Anda, dan terkadang inventory fisik Anda yang sebenarnya.

Anda juga mengandalkan pihak ketiga untuk menjaga tingkat inventory Anda di tempat yang Anda inginkan. Dan kurangnya kontrol yang dirasakan terkadang bisa menakutkan bagi para profesional supply chain.

Tapi, salah satu kelemahan terbesar Vendor Managed Inventory (VMI) adalah dampaknya pada sourcing. Seringkali, manajer supply chain akan merasa ngga bisa menemukan source lain untuk produk yang dikelola oleh vendor yang mereka percayai.

Kalau manajer supply chain jadi terlalu bergantung pada vendor untuk mengelola inventory mereka, manajer supply chain mungkin akan menghadapi harga yang lebih tinggi, kualitas yang berkurang, atau masalah terkait vendor lainnya.

Manajer supply chain juga terkadang merasa sulit untuk punya banyak sumber untuk produk yang dikelola oleh vendor.

Sebagai vendor, kalau Anda bisa mendapatkan kepercayaan dari customer Anda dan menunjukkan kemampuan untuk mengoptimalkan inventory customer Anda menggunakan Vendor Managed Inventory (VMI), Anda tahu kalau Anda kemungkinan besar akan tetap menjadi vendor produk itu untuk jangka panjang.

Cukup sulit bagi manajer supply chain untuk terlibat dalam proyek procurement ketika ngga ada dampak Vendor Managed Inventory (VMI). Vendor Managed Inventory (VMI) yang dijalankan dengan baik membuat praktik re-sourcing ngga cuma berat, tapi juga menjadi prioritas yang sangat rendah.

Potensi hambatan dengan sistem Vendor Managed Inventory (VMI)

Ada beberapa tantangan Vendor Managed Inventory (VMI).

Beberapa potensi kerugian menggunakan sistem Vendor Managed Inventory (VMI) adalah:

  • Beberapa vendor bukanlah organisasi analitik data. Mereka ngga punya kemampuan analisis data yang sesuai dengan yang dibutuhkan Vendor Managed Inventory (VMI). Pastikan Anda memverifikasi kalau vendor yang Anda setujui terbiasa dengan angka.
  • Lebih sulit untuk memutuskan hubungan kalau ngga berhasil. Hubungan Vendor Managed Inventory (VMI) melibatkan dua organisasi yang saling berintegrasi. Mengintegrasikan secara mendalam. Dibutuhkan lebih banyak upaya untuk melepaskan diri dengan jumlah integrasi sebanyak itu.
  • Anda rentan setiap kali Anda membagikan data Anda dengan pihak luar, dan kemitraan Vendor Managed Inventory (VMI) ngga terkecuali. Sekali lagi, pastikan Anda punya perjanjian kerahasiaan yang sangat kuat.
  • Slow moving items. Ngga ideal untuk menyertakan item yang bergerak lambat dalam model Vendor Managed Inventory (VMI). Jika item punya perputaran stok 4 atau kurang, sebaiknya Anda ngga menerapkan skema ini. Umumnya vendor meminta customer untuk mengambil inventory kalau ngga dipindahkan dalam waktu maksimal 4 bulan.
  • Penghitungan fisik inventory. Vendor dan customer harus memastikan kalau kepemilikan jumlah stok fisik ditentukan sejak awal perjanjian.
  • Perkenalan produk baru/phase out item. Akan lebih sulit untuk mengelola rencana Pengenalan Produksi Baru dan Rencana Phase Out untuk inventory pada saat ramp down. Skenario ini butuh komunikasi khusus.
  • Pengecualian bulanan. Kita semua percaya data dalam sistem, kan? Sebagai catatan penting, Anda mungkin ingin memercayai data dalam ERP atau sistem manajemen inventory Anda, tapi pasti akan terjadi perbedaan dalam jangka waktu yang lama. Karena itu, sebaiknya Anda membuat laporan monthly exception untuk menyelaraskan inventory fisik antara vendor dan customer.

Contoh Vendor Managed Inventory (VMI)

Sekarang, ayo kita lihat contoh dari skema ini untuk lebih mudah memahami.

Kita asumsikan ini adalah Vendor Managed Inventory (VMI) untuk toko perbaikan rumah imajiner, Home World.

Misalkan Home World menjual lemari es ICY. Home World punya kontrak Vendor Managed Inventory (VMI) dengan ICY. Home World secara konsisten mengirimkan ICY, melalui EDI atau online, data yang merinci pola penjualan lemari es dan tingkat stok mereka.

Dengan menggunakan data ini, ICY mempertimbangkan lead time mereka dan membuat perhitungan replenishment. Spesialis inventory di ICY meninjau perhitungan tersebut dan menempatkan semua pesanan replenishment untuk Home World.

Hubungan yang sukses dan menguntungkan antara Home World dan ICY sangat bergantung pada pembagian informasi yang akurat secara konsisten. Ngga ada cara lain untuk melakukan sistem Vendor Managed Inventory (VMI)yang sukses selain itu.

Kesimpulan

Vendor Managed Inventory (VMI) adalah strategi kolaboratif antara pembeli dan vendor untuk mengoptimalkan ketersediaan produk dengan biaya minimal.

Secara keseluruhan, biaya manajemen inventory memainkan peran penting dalam mengurangi biaya supply chain.

Vendor Managed Inventory (VMI) adalah strategi distribusi logistik di mana vendor mengelola inventory di lokasi customer dan memutuskan kebijakan replenishment, tergantung pada tingkat ketersediaan dan layanan yang ditentukan.

Vendor diuntungkan dengan mengurangi tingkat inventory-nya, mengurangi variabilitas permintaan customer, dan meningkatkan strategi routing.

Customer mendapatkan keuntungan dengan mengurangi sumber daya yang didedikasikan untuk mengelola inventory dan dengan mengurangi risiko kehabisan stok, jadi itu akan meningkatkan pendapatan mereka.

Vendor Managed Inventory (VMI) dimungkinkan dengan memasang peralatan teknologi di lokasi yang terlibat untuk memungkinkan vendor melacak permintaan dan inventory customer.

Beberapa teknologi yang saat ini sudah jauh berkembang, seperti EDI dan Internet, semakin mempercepat penerapan strategi ini di beberapa industri.

Tujuan vendor di Vendor Managed Inventory (VMI) adalah untuk memutuskan taktik distribusi yang akan meminimalkan biaya inventory dan transportasi di seluruh supply chain.

Meskipun ada banyak manfaat dari Vendor Managed Inventory (VMI), ada beberapa risiko juga yang perlu Anda pertimbangkan. Pastikan Anda mengambil langkah yang diperlukan untuk memitigasinya.

Anda mungkin akan menyadari kalau pada suatu hari, Vendor Managed Inventory (VMI) ngga lagi opsional.

Bagaimana menurut Anda?

Saya akan sangat dengan senang hati mengetahuinya lewat komentar Anda.

Semoga bermanfaat!

“Bagikan artikel ini pada tim atau rekan Anda supaya mereka juga bisa mendapatkan manfaatnya. Pastikan juga Anda bergabung dengan scmguide telegram channel untuk mendapatkan artikel-artikel penting seputar supply chain management lainnya karena bakal banyak lagi yang akan saya bagikan di channel tersebut. Semoga bermanfaat!”

Dicky Saputra

Supply chain practitioner with 16 years of working experience. I help companies improve their end to end supply chain performance. You can contact me on: Email: dicky.scmguide@gmail.com Linkedin: https://www.linkedin.com/in/dickysaputra

View all posts by Dicky Saputra →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: